Catatan Kecil tentang Literasi di Keluarga dan Masyarakat

Kutipan


Oleh: Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd.I., M.Pd

“Anak-anak disulap menjadi pembaca di pangkuan orang tua mereka.” (Emilie Buchwald)

Tidak bisa dipungkiri, orangtua atau keluarga termasuk pilar utama dalam pendidikan. Sebelum anak masuk ke lingkungan sekolah dan masyarakat, orangtua dan keluarga segalanya bagi mereka. Setelah masuk ke dunia sekolah dan masyarakat, orangtua harus tetap berusaha menjadi teladan dan trend setter bagi anak. Sebagai salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi proses belajar anak, orangtua dan keluarga wajib mengupayakan yang terbaik untuk anak.

 

WhatsApp Image 2019-09-30 at 06.10.55

Bang Fatih dan Dek Faeyza sedang membaca buku

Kecanggihan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) hari ini membawa pengaruh yang besar pada pola asuh, pola didik dan pola interaksi orangtua pada anak. Kadang tanpa kita sadari, kita lebih banyak terkena pengaruh negatifnya daripada positifnya. Saya sendiri sedang berusaha untuk meminimalisir atau menjauhinya.

 

Suatu ketika saya menemukan gambar di beranda sosial media saya. Di gambar itu tampak seorang Ibu sedang asyik dengan gadgetnya dan di sebelahnya duduk pula seorang anak dengan aktivitas yg sama. Gambar berikutnya terlihat seorang Ibu sedang duduk sambil membaca buku, tentu saja di sebelahnya ada anak dengan aktivitas yang sama. Bagi saya  maknanya tajam dan mendalam. Dengan apa dan siapa anak dekat, semua bermula dari apa yang menjadi kebiasaan kedua orangtua di rumah. Berawal dari kebijaksanaan orangtua membentuk pribadi anak. Tampaknya teori Tabula rasa John Locke berlaku di sini. Sederhananya, anak adalah cerminan bagaimana orangtuanya, begitu juga sebaliknya. Selain kondisi lingkungan sekitar anak, kedua orangtua yang paling bertanggungjawab dalam membentuk dan mengarahkan kehidupan anak

 

Ketertarikan saya pada dunia literasi sejak masih remaja sampai hari ini membuat saya bertemu banyak orang dengan ketertarikan yang sama. Dunia literasi ini menarik dan mengasyikkan meski tak jarang akan mengalami kemunduran pada satu waktu dan kembali bersemangat pada banyak waktu. Maka, izinkan saya menyimpulkan satu hal, bahwa maju mundurnya semangat dunia literasi ini dipengaruhi oleh peran keluarga dan masyarakat. Jika tidak ada peran, perhatian, dan dukungan dari keluarga dan masyarakat kepada generasi muda dan dunia literasi, kehidupan kita dalam berbagai sisi akan berada dalam zona memprihatinkan. Sebuah negara nasibnya bisa saja terancam. Masih ingat dengan peristiwa sejarah Bom Hiroshima di Jepang atau sejarah tentang kehancuran Baghdad? Dua peristiwa yang mengingatkan kita bahwa jantung sebuah bangsa dan negara terletak pada kecintaan bangsanya sendiri terhadap buku dan orang-orang yang berilmu.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Kenapa anak-anak kita hari ini lebih betah berlama-lama dengan gawainya daripada bercengkrama dengan buku? Ada begitu banyak jawaban perihal ini dan akan ada begitu banyak fakta dan data yang mendukung kenyataan ini. Namun, yang kita butuhkan saat ini bukanlah sekadar alasan dan jawaban atau fakta dan data pendukung. Kita butuh solusi. Kita butuh orang-orang yang siap menjadi pemecah masalah. Di mana solusi dan pemecah masalah itu bisa kita temukan? Ya, di keluarga dan masyarakat kita sendiri.

 

Mari sama-sama memulainya dari sekarang sebab tidak ada kata terlambat. Kita bisa bercermin pada semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam mensosialisasikan  Gerakan Literasi Keluarga dan menjadikan program ini menjadi program penting yang telah melahirkan Buku Panduan Pelaksanaan Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (GERNAS BAKU).

 

 

Apa itu Gerakan Literasi  Keluarga? Gerakan Literasi Keluarga merupakan salah satu program dari Kemdikbud dalam hal pemberdayaan keluarga dengan fokus utama yaitu meningkatkan minat baca anak. Di bawah naungan Gerakan Literasi Nasional,  gerakan literasi keluarga secara resmi  diluncurkan pada tahun 2017. Gerakan Literasi keluarga menjadi salah satu program tujuan dari gerakan literasi nasional yang perlu kita dukung.

 

Agar Anak Bersahabat dengan Buku

Masalah muncul ketika orangtua begitu antusias dengan aktivitas literasi di rumah sementara anak sebaliknya. Tentu saja mengenalkan dan mengakrabkan anak dengan dunia literasi sejak dini begitu penting. Meskipun begitu, setiap saat adalah waktu yang tepat untuk memulainya. Lalu, bagaimana caranya agar anak bersahabat dengan buku?

 

Pertama, Mulai dengan Membacakan Buku

“Kau mungkin punya harta tak berhingga.Tumpukan emas dan permata.

Aku takkan pernah lebih kaya daripadamu. Tapi, aku punya ibu yang membacakan buku untukku.” (Strickland Gillilan)

Betapa bahagianya jika kalimat mutiara di atas terucap dari anak kita sendiri. Kalau pun tidak mereka ucapkan, setidaknya mereka bisa merasakannya sendiri. Hal itu bisa saja terjadi jika kita mau memulainya dengan membacakan mereka buku secara rutin dan terjadwal khususnya sejak masih dalam kandungan sampai batas usia emas mereka yaitu dua tahun pertama. Setelah itu tetap bacakan buku pada mereka meskipun pada akhirnya mereka akan memiliki kesenangan dan ketertarikan sendiri pada buku. Saya pun berusaha menerapkan ini pada kedua anak saya di rumah.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Tanpa saya sadari, efeknya begitu besar sampai hari ini. Meskipun mereka belum bisa membaca, tapi mereka selalu bersemangat setiap kali saya bacakan buku, melihat buku atau minta dibacakan buku. Setiap ada kertas berisi tulisan dan gambar selalu antusias untuk melihat, mengamati dan membacanya. Segala lelah selalu terbayar dengan pemandangan seperti ini.

 

Kedua, Ajak ke Toko Buku atau Perpustakaan Kota dan Daerah

Jika tak bisa setiap waktu, sempatkanlah sesekali. Di sana mereka bisa melihat buku favorit mereka lebih banyak dan para pemburu buku yang begitu menikmati lembar demi lembar apa yang mereka baca. Sudah ada beberapa perpustakaan yang ramah anak, namun masih bisa dihitung dengan jari. Alangkah baiknya jika setiap perpustakaan atau wahana baca yang ada menjadi fasilitas publik yang ramah anak. Pada akhirnya, mereka akan lebih senang menghabiskan waktu di sana daripada jalan-jalan ke tempat lain.

 

Ketiga, Bercerita dan Bernyanyi

Anak belajar setiap kali kita bercerita atau mengajaknya bercerita dan bernyanyi. Hasil pembelajaran yang mereka dapatkan di antaranya memiliki kemampuan untuk mengingat, memahami, memaknai dan berkomunikasi yang baik.

 

Bercerita dan bernyanyi bersama anak adalah hal yang sederhana. Kemampuan anak bercerita dan bernyanyi dimulai dari kemauan orangtua untuk memulai bercerita dan bernyanyi terlebih dahulu. Anak-anak yang terbiasa diajak bercerita sejak dini, kelak akan tumbuh menjadi anak yang dekat dengan orangtuanya dan memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik di tengah siapa saja.

 

Sebagai Penutup

14

Di antara buku-buku, Bang Fatih si Penyuka Buku, dan quote yang keren.

Kondisi ekonomi setiap orang tentu berbeda, tetapi saya yakin jika untuk kebaikan anak kita punya visi misi yang lebih kurang sama. Memiliki atau membeli dan membaca minimal satu buku setiap bulan barangkali terasa berat di awal bagi sebagian keluarga. Tetapi yang kita anggap berat ini tidak akan terasa berat jika memikirkan efek positifnya bagi kehidupan anak-anak. Bagi keluarga yang berekonomi mampu barangkali bisa dua atau lebih buku per bulannya dengan target beberapa buku dihadiahkan kepada yang membutuhkannya. Pokoknya jangan sampai kita lebih mudah mengeluarkan uang untuk yang bukan kebutuhan daripada yang menjadi kebutuhan (buku). Tapi, kira-kira kenapa ya buku anak mahal dan lebih mahal daripada buku-buku lainnya? Atau hanya saya saja yang merasakannya?

 

Selain itu, bersama dengan pemerintah (setempat) kita perlu mengupayakan adanya perpustakaan umum di tiap kecamatan atau lingkungan setempat. Ini penting sebab tidak semua orang punya akses yang mudah dan kesempatan yang banyak jika harus ke toko buku, perpustakaan kota atau daerah atau menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan keliling. Tidak bosan saya mengulangi agar setiap perpustakaan perlu diupayakan untuk menjadi fasilitas umum yang ramah anak. Lalu, saya teringat dengan harapan lama saya untuk kota saya dan negara ini: semua transportasi umum dan tempat nongkrong, makan atau cafe ada perpustakaan mini di dalamnya.

 

Dengan target memiliki satu buku per bulan lahirlah rumah dengan perpustakaan (mini) yang memiliki generasi penerus berpikiran cemerlang dan cerdas. Dari rumah-rumah tersebut terciptalah satu masyarakat yang begitu mencintai literasi. Pada akhirnya, terbangun kokohlah satu negara yang kehidupan bangsanya sejahtera lahir dan batin. Kita maksimalkan usaha kita dalam membudayakan literasi di keluarga dan masyarakat. Secepatnya, Indonesia akan berada pada peringkat atas dan menjadi contoh perihal kemajuan literasi bagi negara lain.

 

“Penguatan budaya literasi adalah kunci memajukan negeri ini.” (Lenang Menggala)

 

Rumah Literasi Fatih Faeyza, September 2019

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga

#AyoHijrah Sekarang Bersama Bank Muamalat Indonesia


imagesOleh: Fitri Amaliyah Batubara

Cerita tentang Bank Muamalat Indonesia, saya jadi teringat masa Aliyah dulu (tahun 2004-2006). Bank Muamalat Indonesia sudah seperti cinta pertama bagi saya. Aliyah adalah masa-masa saya mengenal dan penasaran dengan bank syariah satu ini. Setelah kenal dan rasa penasaran saya terpecahkan, saya pun mantap membuka rekening pribadi atas nama saya sendiri di bank ini. Yes, ini menjadi buku tabungan pertama dalam sejarah hidup saya. Waktu itu, saya merasa perlu membuka rekening karena zaman saya Aliyah adalah zaman di mana gejolak saya untuk menulis dan mengirimkannya ke media massa sedang naik-naiknya. Of course, saya butuh bank yang aman dan tanpa riba untuk menyimpan honor menulis saya. Tidak muluk-muluk, walaupun jumlahnya tidak selalu besar, tapi jika ditabung sampai masanya memang harus diambil, saya selalu yakin jumlahnya lumayan. Toh selalu benar kan kalimat ini, “Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.”? Apalagi bagi saya yang waktu itu statusnya anak sekolahan dengan jatah uang jajan pas-pasan bahkan kadang kurang. =D

 

Satu lagi alasan kenapa saya waktu itu buka rekening karena kalau disimpan di rumah godaan dan kemudahan untuk menghabiskannya dalam waktu sekejab begitu besar. Jadi, saya pikir “menghijrahkan” uang saya dari rumah ke bank adalah pilihan tepat. Semoga bukan saya saja, tapi waktu itu untuk ukuran anak SMA seperti saya, punya buku tabungan itu rasanya keren sekali, apalagi nabungnya di Bank Muamalat Indonesia, bank pertama murni syariah di Indonesia.
Dari zaman saya Aliyah sampai hari ini Bank Muamalat Indonesia tetap eksis mewarnai dunia perekonomian di Indonesia dengan beragam program dan produk menarik dan keren, namun tetap berbasis syariah. Menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim adalah tujuan paling utamanya. Salah satu program yang belakangan ini diusung adalah program #AyoHijrah yang dilaunching pada 8 Oktober 2018 lalu. Sesuai namanya, program ini mengajak masyarakat untuk hijrah secara menyeluruh, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan dengan memanfaatkan layanan perbankan syariah untuk kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah.

 

Masyarakat pun tidak perlu khawatir, karena program ini tidak henti-hentinya diperkenalkan ke tengah-tengah masyarakat lewat berbagai kegiatan menarik agar masyarakat benar-benar mengerti tujuan dan manfaat dari gerakan #AyoHijrah ini. Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya seminar/ edukasi tentang perbankan syariah, open booth di pusat kegiatan masyarakat, kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama, dan pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah. Semua demi terwujudnya cita-cita Bank Muamalat Indonesia sebagai pusat dari ekosistem Ekonomi Syariah dan turut membangun industri halal di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

 

Seiring dengan perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menggunakannya, masyarakat bisa dapat dengan mudah mengakses dan mengetahui lebih detail program #AyoHijrah lewat berbagai aplikasi sosial media Bank Muamalat Indonesia, seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan Website. Kita pun akan tahu produk Bank Muamalat Indonesia saat ini, di antaranya Tabungan iB Hijrah, Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, Tabungan iB Hijrah Rencana, Tabungan iB Hijrah Prima, Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Giro iB Hijrah, serta Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix (masih dalam proses pengajuan kepada Regulator/OJK).

 

Nah, apalagi nih yang bikin kita ragu untuk hijrah ke bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1992 ini? Program dan produknya tidak hanya menarik tapi juga berkah dan berbasis syariah serta lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan kantor cabang hingga ke luar negeri. Selain tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariahnya, pengelolaan dana di Bank Muamalat Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. #AyoHijrah bersama ke kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah sejak sekarang. Segala urusan kita tidak bisa lepas dari yang namanya uang tapi urusan uang ini kelak juga akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. So, tunggu apa lagi? Saya saja sudah semangat ’45 ini mau ajak suami buka tabungan di Bank Muamalat Indonesia. #AyoHijrah sekarang bersama Bank Muamalat Indonesia.